Dia Bisa, Mengapa Aku Tidak?
Hai, namaku
Hani. Sekarang, aku tengah menduduki bangku Kelas Enam semester dua. Tentu
kalian tahu bukan, sebentar lagi aku harus mengikuti Ujian Nasional SD. Aku
paling takut akan UN, jadi, aku memohon pada mama agar aku tidak UN, tapi, mama
menolak permintaanku.
Malam ini aku
tengah belajar untuk mempersiapkan UN yang tinggal tiga bulan. Hatiku berdebar
kencang dan gelisah akan moment mengerikan yang akan datang itu. Karena
keringat terus membasahiku, aku memutuskan untuk menonton TV saja sekedar
refreshing. Mama melihatku belum tidur. Mama menegurku. Namun, aku tetap pada
pendirian: ingin menonton TV malam ini juga. Karena melihatku begitu, mama
mengalah dan kembali menuju kamar.
Di tengah
keheningan malam, aku menonton berita di TV. Ya, hoby baru itu muncul
tiba-tiba. Awalnya aku lebih senang menonton Drama Korea, namun, sekarang aku
beranggapan menonton berita itu lebih penting dari pada Drama Korea. Acara yang
di tayangkan kusimak dengan jelas dan dapat terserap ke otakku. Berita malam
adalah favoritku karena sering sekali bercerita mengenai anak-anak sekolah,
entah tentang Tawuran, Ujian Nasional, Contek-Mencontek, Guru Yang Kejam, dll.
Berita itu selalu menginspirasiku agar tidak berbuat demikian dan lebih
berhati-hati.
Malam ini,
kulihat berita yang lain dari sebelumnya. Seorang anak gelandangan yang tidur
di kolong jembatan diberitakan tengah liburan musim dingin di Jepang! Anak itu
mendapat beasiswa ke Jepang! Menurut berita, anak itu mendapatkan nilai
tertinggi saat UN di sekolah international dengan beasiswa juga. Haru rasanya.
Tak selamanya jika hidup awal sengsara akan selamanya begitu. Jika ia semangat
belajar. Lalu, mengapa aku yang orang tuanya termasuk kaya raya tidak dapat
seperti dia? Mengapa aku malah takut jika menghadapi UN? Bukankah seharusnya
aku semangat menghadapinya?
Kumatikan TV,
aku menuju meja belajar di kamarku. Kupeluk buku pelajaranku, kuletakkan, lalu
kumatikan lampu. Aku pasti bisa menghadapi UN, tak ada yang tidak mungkin jika
dengan usaha yang keras dan semangat juang yang selalu berkobar. Anak itu
sungguh membangkitkan semangatku dan menghilangkan kebencianku terhadap UN. Aku
sangat berterimakasih padanya. Sekarang, aku akan berlari cepat mengejar nilai
UN tertinggi. Semangat!
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
0 komentar:
Posting Komentar